Semua yang perlu kamu tahu tentang chargeback dropshipping

Chargeback akan menghancurkan bisnis dropshipping-mu. Ibarat bisbol, setelah tiga strike, kamu tersingkir. Pengembalian dana dan retur tidak terlalu merugikan karena konsumen mendapatkan sesuatu kembali. Sebaliknya, chargeback sama saja dengan tuduhan penipuan.
Apa itu chargeback?
Chargeback berarti pembeli melaporkan kepada penerbit kartu kreditnya bahwa pembayaran yang kamu tagihkan tidak mereka izinkan atau merupakan penipuan.
Intinya, pelanggan ini melewatkan penyelesaian secara baik-baik denganmu. Mereka tidak menginginkan solusi seperti penggantian barang atau pengembalian dana.
Perbedaan chargeback dan pengembalian dana terletak pada keterlibatan penerbit kartu atau bank. Banklah yang menarik uang dari rekeningmu.
Tentu saja, ini tidak langsung terjadi. Penyelidikan akan dimulai, dan kamu akan diberi kesempatan untuk membela diri.
Namun, kamu tetap harus membayar biaya antara $15 dan $100, apa pun hasil penyelidikannya. Artinya, sebagai dropshipper, kamu menghadapi risiko dan kenyataan berikut:
- Kamu kehilangan uang, termasuk hasil penjualan, barang itu sendiri, dan biaya pengiriman.
- Kamu membayar biaya chargeback.
- Kamu membahayakan rekening bank usahamu, termasuk akun di penyedia pemrosesan pembayaran seperti PayPal.
Chargeback tidak pernah menguntungkanmu, sekalipun bank memutuskan untuk memenangkanmu setelah penyelidikan. Langkah terbaik yang bisa kamu ambil hanyalah mencegah terjadinya chargeback.
Mengapa chargeback terjadi?

Berikut alasan terjadinya chargeback:
- Penipuan yang benar-benar terjadi
- Dugaan penipuan
- Kesalahan penjual
Penipuan yang benar-benar terjadi berarti pelanggan atau pemegang kartu memang tidak pernah memesan apa pun. Kartunya mungkin diretas dan digunakan untuk berbelanja di suatu tempat. Dalam kasus ini, peretas mungkin berbelanja di toko dropshipping-mu.
Dugaan penipuan bisa muncul karena berbagai hal, termasuk pengiriman yang lama atau gagal. Kamu tidak bisa menyalahkan konsumen yang merasa ditipu jika barang belum tiba dalam 30 hari. Hal ini umum terjadi saat menggunakan AliExpress atau pemasok dengan reputasi kurang baik.
Masalah pengiriman lainnya meliputi:
- Paket hilang dalam pengiriman.
- Paket dikirim ke alamat yang salah.
- Keterlambatan pengiriman yang biasanya terjadi karena proses bea cukai.
Contoh dugaan penipuan lainnya terjadi ketika pelanggan memesan sesuatu, tetapi tidak mengingatnya. Pelanggan akan mengira tagihan itu muncul tanpa izinnya. Ini jarang terjadi pada dropshipper, tetapi lebih sering pada transaksi atau langganan perangkat lunak.
Contoh kesalahan penjual yang paling umum adalah penagihan ganda. Ya, hal ini bisa terjadi jika ada bug pada sistem. Terkadang, penjual juga menagihkan jumlah yang salah.
Dampak chargeback bagi dropshipper

Dari sisi keuangan, tentu kamu tidak ingin mengalami chargeback dalam bentuk apa pun. Kegagalan mengurangi risiko ini bisa mengakhiri bisnismu. Di bagian ini, saya akan membahas beberapa potensi dampak buruk chargeback terhadap bisnis dropshipping-mu.
1. Kamu kehilangan uang
Menang atau kalah dalam penyelidikan tidak mengubah kenyataan bahwa kamu akan kehilangan uang. Bank atau penerbit kartu kredit akan otomatis membebankan biaya setidaknya $15 hanya karena kamu dituduh melakukan penipuan.
Bukan hanya biaya chargeback yang perlu kamu khawatirkan, tetapi juga biaya produk, biaya pengiriman, serta waktu dan tenaga yang kamu habiskan untuk menangani penyelidikan.
Misalnya, kamu menjual produk seharga $40 dengan biaya pengiriman $10. Pelanggan sudah membayarnya, tetapi mengaku barangnya tidak pernah tiba.
Ke mana uang $60 itu pergi?
Uang itu masuk ke pemasokmu. Jika kamu kalah dalam kasus chargeback ini, bank akan menarik $60 darimu, ditambah biaya $15. Total kerugianmu $75. Kamu mungkin bisa mendapatkan kembali $60 dari pemasok jika mereka yang bersalah, tetapi uang $15 itu tidak akan pernah kembali.
2. Kamu kehilangan kredibilitas
Poin kredibilitas atau skor kepercayaanmu sebagai penjual akan turun jika chargeback terus terjadi. Bank dan penyedia pemrosesan pembayaran akan menganggapmu penipu, dan pada akhirnya menutup akunmu.
Penyedia pemrosesan pembayaran yang paling ketat adalah:
- PayPal
- Stripe
- Shopify Payments
Pemroses dan penerbit kartu kredit akan melakukan hal yang sama. Cukup beberapa kasus chargeback, kamu bisa kehilangan kemampuan untuk menerima pembayaran dengan kartu.
Menang atau kalah pun tidak berpengaruh. Kasus chargeback begitu jarang terjadi sehingga kemunculannya menimbulkan kecurigaan lembaga keuangan. Mereka akan mengira kamu berusaha lolos dari tindakan penipuan.
Secara umum, ambang batas rasio chargeback di industri ini adalah 1%. Artinya, jika 1% transaksimu berujung pada chargeback, tamatlah bisnismu.
3. Akun dibekukan atau ditutup
Dalam skenario terburuk, penyedia pemrosesan pembayaran atau perusahaan kartu kredit bisa memblokirmu. Jika ini chargeback pertamamu, mereka mungkin hanya membekukan akun dan menahan uang di dalamnya setelah penyelidikan selesai.
Jika ini terjadi, kamu tidak bisa lagi memproses pembayaran kartu kredit. Lebih buruk lagi, perusahaan kartu kredit akan memasukkanmu ke daftar hitam penjual. Tentu saja, hal ini juga bisa mematikan bisnis yang kamu bangun kelak karena pemblokiran tersebut terikat pada identitasmu.
Tidak ada hal baik yang dihasilkan chargeback. Sayangnya, hal ini bisa terjadi karena sebagian pelanggan mudah panik. Tentu saja, ini dengan asumsi bahwa pemasokmu dapat diandalkan dan kamu bersikap jujur.
Sebagian dropshipper melebih-lebihkan deskripsi produknya. Ketika barang diterima pelanggan, kondisinya lebih buruk daripada yang digambarkan. Chargeback seperti ini tentu beralasan.
Menghindari chargeback adalah satu-satunya cara melindungi bisnis dropshipping-mu dari dampaknya. Bagian berikut akan membantumu melakukannya.
Cara mencegah chargeback
Meski chargeback tidak bisa dihindari 100%, ada beberapa cara untuk menguranginya. Kuncinya adalah keterbukaan dan ekspektasi. Kamu tidak bisa menyalahkan pembeli yang merasa ditipu, tetapi kamu bisa menghilangkan anggapan atau kecurigaan ini sepenuhnya sejak awal.
1. Deskripsi produk yang jelas dan jujur
Jangan pernah berbohong dalam deskripsi produk dropshipping-mu. Banyak dropshipper melakukannya agar produk terlihat lebih menarik. Hasil akhirnya selalu sama: pelanggan yang tidak puas.
Hasil terburuknya, tentu saja, adalah chargeback.
Kamu juga harus sangat terbuka tentang kemampuan produk. Misalnya, jangan membuat klaim tidak masuk akal seperti “baterai ini tahan 48 jam” kecuali memang benar.
Selain itu, jangan gunakan gambar dari pemasok jika kamu tahu gambar tersebut menyesatkan. Contoh yang sering saya lihat adalah kolam renang tiup. Sebagian besar gambar menunjukkan produk itu bisa menampung delapan orang, padahal produk aslinya terlalu kecil untuk menampung orang sebanyak itu.
Ada banyak alat pengedit gambar gratis, seperti GIMP. Edit gambarnya agar tidak memberi gambaran yang keliru, dan kamu tidak akan pernah menghadapi pelanggan yang kecewa.
Tentu kamu tidak ingin membuat pelanggan frustrasi. Jika merasa dibohongi, mereka bahkan tidak akan meminta pengembalian dana. Mereka akan langsung mengajukan chargeback karena merasa kamu pantas mendapatkannya.
2. Bangun ekspektasi yang tepat
Pastikan informasi pengiriman tersedia di setiap halaman produk.
Wajar jika pelanggan berharap paketnya tiba dalam dua hari atau sedikit lebih lama. Namun, bagi dropshipper, ini adalah komitmen besar yang jarang sekali bisa dipenuhi, bahkan mungkin tidak pernah.
Sebagian pelanggan akan langsung merasa ditipu jika paketnya terlalu lama tiba. Namun, kamu bisa mencegah anggapan ini dengan membangun ekspektasi yang tepat sejak awal.
Sebaiknya kamu cantumkan estimasi waktu pengiriman di halaman produkmu. Salah satu kesalahan umum dropshipper adalah menyembunyikan informasi pengiriman karena takut pelanggan tidak jadi membeli jika pengirimannya terlalu lama.
Banyak yang tidak menyadari bahwa strategi menyembunyikan waktu pengiriman ini bisa lebih merugikan bisnis daripada tidak mendapatkan penjualan sama sekali.
3. Berikan nomor resi yang bisa dilacak
Selalu jalin komunikasi dengan penjual atau pemasok. Begitu nomor resi tersedia, segera kirimkan kepada pelanggan.
Sebagian pemasok mengotomatiskan proses ini. Begitu nomor resi tersedia, nomor tersebut otomatis dikirim ke alamat email pelanggan.
Sebaiknya kamu juga memeriksa sendiri status pengiriman. Jika situs pelacakan pengiriman tidak berfungsi, hubungi pemasok untuk mencari tahu apa yang terjadi, lalu sampaikan informasi yang sama kepada pembelimu.
Ini mencegah pembeli mengira transaksi tersebut adalah penipuan. Bangun kepercayaan melalui komunikasi, yang akan kita bahas dalam saran berikutnya.
4. Jawab pertanyaan secepat mungkin
Pelanggan ingin tahu keberadaan paketnya. Sebagian tidak menggunakan nomor resi, bukan karena tidak mau, tetapi mungkin karena kurang terbiasa dengan teknologi.
Salah satu tugasmu sebagai dropshipper adalah melayani pelanggan. Jika pembeli menanyakan status pengiriman, berikan jawaban yang jelas. Jangan menyuruhnya memeriksa sistem pelacakan karena ini membuat seluruh transaksi terkesan seperti penipuan.
Respons cepat juga dihargai pelanggan. Menjawab pertanyaan dalam 24 jam selalu menjadi praktik yang baik. Namun, bagi sebagian konsumen, ini mungkin masih terasa lambat. Jadi, kamu bisa menggunakan chatbot yang mampu menjawab pertanyaan paling umum seputar pembelian.
5. Publikasikan kebijakan pengembalian dana yang jelas dan wajar
Halaman pengembalian dana wajib ada dalam bisnis dropshipping. Seperti estimasi waktu pengiriman, kebijakan pengembalian dana dan retur harus mudah ditemukan.
Idealnya, kebijakan pengembalian dana dicantumkan di halaman produk. Kamu tidak harus menuliskan seluruh prosesnya, tetapi setidaknya sertakan beberapa kalimat tentang cara kamu memproses pengembalian dana. Jika tidak, satu kalimat singkat tentang pengembalian dana dan tautan ke halaman kebijakannya sudah cukup.
Halaman kebijakan pengembalian dana memberi pembeli keyakinan untuk melanjutkan pembelian karena tahu uangnya bisa kembali jika ekspektasinya tidak terpenuhi. Selain itu, mereka cenderung tidak mengajukan chargeback jika tahu bisa meminta uangnya kembali.
Berikut beberapa tips lain untuk mencegah chargeback:
- Kirim email konfirmasi pesanan agar pelanggan tahu bahwa paketnya sedang dalam perjalanan.
- Gunakan nama penjual yang mudah dikenali. Nama inilah yang muncul pada laporan tagihan pelanggan.
- Gunakan alat pencegahan penipuan. Ada perangkat lunak yang bisa mendeteksi kemungkinan chargeback. Begitu terdeteksi, perangkat lunak tersebut otomatis menghubungi pemegang kartu atau mengembalikan dana. Dengan begitu, chargeback tidak akan terjadi.
Satu tips tambahan: jangan menjual ke negara berisiko tinggi. Jika pembeli melakukan pembelian dengan alamat pengiriman di negara berisiko tinggi, jangan lanjutkan. Pesanan itu bahkan tidak perlu masuk. Kamu cukup mengatur bagian pengiriman dan memblokir negara-negara tersebut.
Negara berisiko tinggi adalah negara yang terkena sanksi atau dianggap berisiko oleh penyedia pemrosesan pembayaran seperti PayPal. Contohnya, saat ini, adalah Iran, Yaman, Haiti, dan sebagainya.
Menangani chargeback sebagai dropshipper

Chargeback memang menakutkan. Kamu dituduh melakukan penipuan, jadi wajar jika kamu merasa demikian. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menenangkan diri. Jangan marah, tetaplah objektif.
Setelah kepanikan dan kemarahanmu mereda, ikuti langkah berikut.
Buka dashboard akun penjual atau penyedia pemrosesan pembayaranmu. Setiap dropshipper memilikinya. Jika menggunakan Shopify Payments, kamu akan melihat chargeback di sana. Panduan langkah selanjutnya biasanya juga tersedia dalam sistem tersebut. Begitu pula dengan PayPal, Stripe, dan lainnya.
Baca tuduhannya. Lalu baca sekali lagi. Cobalah memahami apa yang terjadi dan kaitkan masalah itu dengan konsumen, pesanan, serta detail terkait yang tepat. Tuliskan urutan kejadiannya secara kronologis, seperti ini:
- Pelanggan membeli produk.
- Uang diterima dan produk dikirim.
- Pelanggan dikirimi notifikasi pengiriman beserta nomor resi.
- Pelanggan mengajukan keluhan.
- Saat ini, paket masih berada di bea cukai.
Catat tanggalnya. Susun penjelasanmu berdasarkan catatan tersebut. Sertakan ID pesanan, ID pembayaran atau transaksi, nomor resi pengiriman, dan semua detail lainnya.
Yang lebih penting, siapkan tangkapan layar dan tautan sebagai bukti. Sertakan tangkapan layar tersebut dalam tanggapanmu. Terakhir, jelaskan status atau penyelesaiannya. Misalnya, nyatakan secara spesifik bahwa produk masih berada di bea cukai dan di luar kendalimu, atau bahwa pelanggan hanya perlu menunggu beberapa hari lagi.
Setelah mengirim tanggapan, tentukan apakah kamu perlu menghentikan sementara kerja sama dengan pemasok. Lakukan ini jika chargeback disebabkan oleh kesalahan pemasok. Jika bukan, kamu tidak perlu melakukannya.
Jangan lupa meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Jangan pernah melampiaskan kemarahan kepada pelanggan karena ini hanya akan memperburuk keadaan. Ingat, sebagian besar perusahaan kartu memutuskan untuk memenangkan pembeli. Pembeli ingin uangnya kembali, dan posisimu sangat tidak menguntungkan, jadi marah tidak akan membantu.
Tetap tenang dan biarkan perusahaan kartu kredit menangani sisanya.
Selanjutnya, cari tahu penyebab chargeback. Apakah karena ekspektasi pelanggan tidak dibangun dengan baik? Apakah deskripsi produkmu tidak sesuai dengan produk aslinya? Temukan penyebabnya dan lakukan perubahan yang diperlukan. Menyiapkan templat tanggapan juga akan membantu, misalnya templat pengembalian dana, agar tanggapanmu konsisten.
Cara sebagian besar marketplace dropship menangani chargeback
Marketplace dropship tidak menangani chargeback. Mereka menangani pengembalian dana dan retur. Chargeback adalah kasus yang diajukan terhadapmu sebagai penjual, bukan terhadap pemasok.
Marketplace dropship menagih kartu kreditmu, jadi kamu juga bisa mengajukan chargeback terhadap mereka. Namun, saya tidak menyarankannya, terutama jika mereka sudah menjalankan tugasnya.
Chargeback adalah risiko bisnis yang hanya bisa kamu kurangi dengan memilih pemasok yang tepat. Itulah mengapa kamu perlu selektif saat memilih marketplace atau platform. Chargeback jarang terjadi jika pemasok berpengalaman dan profesional. Pemasok profesional mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik, menyediakan faktur dan sertifikasi yang akurat, memiliki situs web, serta responsif. Tanda yang patut diwaspadai adalah komunikasi dengan pemasok yang hanya melalui WhatsApp atau aplikasi pesan serupa, faktur yang tidak lengkap atau tidak tersedia, serta dokumen sertifikasi beresolusi rendah atau secara umum mencurigakan.
Kamu lebih berisiko mengalami masalah jika menjalankan dropship langsung dari platform seperti AliExpress. Meski mereka menawarkan perlindungan pembeli, kamu harus menangani chargeback sendiri. Di marketplace seperti ini, sertifikasi yang diperlukan, seperti CE untuk penjualan produk elektronik di Uni Eropa, sering dipalsukan. Waktu pengirimannya pun sangat buruk. Pengiriman memakan waktu 1-2 bulan padahal disebutkan 10 hari bukanlah hal yang tidak biasa.
AutoDS, Spocket, dan platform serupa cukup aman, tetapi mereka juga sekadar perantara antara kamu dan pemasok. Situasinya sama: mereka hanya bisa menawarkan retur dan pengembalian dana sebagai pilihan, tetapi tidak akan menangani chargeback untukmu.
Cara Tradelle mencegah chargeback
Tradelle mencegah chargeback dengan mengikuti proses ketat yang semuanya menghasilkan satu hal: kepuasan pelanggan. Tradelle memahami bahwa agar bisnis berkembang, setiap pihak bertanggung jawab untuk saling mendukung.
Berbeda dengan platform seperti AutoDS atau Spocket, Tradelle bukan marketplace untuk pemasok. Tradelle sendiri adalah pemasoknya. Memang, mereka tidak memproduksi barang tersebut, tetapi menjadi penghubung antara kamu dan produsen.
Artinya, Tradelle memiliki kewajiban sebagai pemasok, bukan sekadar platform tempat pesanan diproses. Karena itu, mereka bertanggung jawab atas berbagai masalah sebagaimana pemasok konvensional. Di platform lain, pemasok seperti itu bahkan mungkin sulit kamu hubungi.
Tradelle menawarkan sistem dropshipping otomatis yang mencakup fulfillment pesanan. Begitu pelanggan memesan, pesanan langsung masuk ke Tradelle, lalu mereka memproses pengirimannya.
Proses seperti ini mengurangi risiko kesalahan. Banyak dropshipper yang tidak menggunakan Tradelle masih memesan secara manual, sehingga membuka peluang terjadinya berbagai kesalahan.
Sistem otomatis Tradelle juga mengirim notifikasi kepada kamu dan pelangganmu begitu barang dikirim. Notifikasi ini menyertakan nomor resi pengiriman agar pelanggan bisa mengetahui keberadaan paketnya.
Selain itu, status pesanan diperbarui, dan setiap kali ada pembaruan, kamu serta pembelimu sama-sama menerima notifikasi. Ini menghemat waktumu sekaligus memberi tahu pelanggan bahwa paketnya sedang dalam perjalanan, sehingga mencegah mereka merasa ditipu.
Terakhir, Tradelle memiliki jaringan sistem global yang memastikan pengiriman sangat cepat.
Tradelle juga memastikan produk yang dijual berkualitas tinggi. Harganya terjangkau, tetapi bukan barang tiruan murahan. Pelangganmu cenderung tidak mengajukan chargeback karena merasa ditipu. Selain itu, fitur impor 1 klik Tradelle melalui integrasi Shopify memastikan deskripsi produk akurat dan tidak menyesatkan. Namun, tentu saja kamu bebas menyesuaikan semuanya sesuai keinginanmu.
Berkat semua ini, kemungkinan pelangganmu mengajukan chargeback mendekati nol. Satu-satunya alasan yang mungkin membuat mereka melakukannya adalah ketidaksabaran. Jika ini terjadi, kamu tetap akan memenangkan kasus chargeback karena Tradelle mendukungmu. Mereka memiliki catatan seluruh komunikasi, nomor resi, dan semua informasi lain yang kamu butuhkan untuk membuktikan bahwa kamu tidak melakukan penipuan.
Tanya jawab: chargeback dropshipping
Apa itu chargeback dalam dropshipping?
Chargeback adalah keluhan resmi yang sama saja dengan menuduhmu melakukan penipuan. Ini sangat serius dan harus ditangani dengan sangat hati-hati serta sesegera mungkin.
Apa risiko terbesar dalam dropshipping?
Risiko terbesar adalah akun keuanganmu diblokir karena tuduhan penipuan. Perusahaan kartu atau penyedia pemrosesan pembayaran seperti PayPal juga bisa menahan uangmu.
Apakah chargeback bisa membuat saya terkena masalah?
Ya, chargeback merupakan sengketa hukum, jadi bisa membuatmu terkena masalah. Bukan berarti kamu akan dipenjara, tetapi akunmu di lembaga keuangan bisa ditangguhkan.
Apakah semua penyedia pemrosesan pembayaran mengizinkan chargeback?
Karena chargeback diajukan kepada penerbit kartu kredit, bukan penyedia pemrosesan pembayaran, Shopify, Stripe, PayPal, maupun platform lain tidak punya pilihan untuk menolaknya. Namun, semuanya menyediakan dashboard dan formulir khusus untuk menanggapi chargeback dengan informasi yang kamu miliki serta menyampaikan penjelasan dari sisimu.
Ringkasan: chargeback dropshipping
Chargeback memang menakutkan, dan itu wajar. Begitu mengalaminya, kamu pasti kehilangan uang untuk membayar biaya. Langkah terbaik adalah terus melangkah dan mencari tahu penyebab awalnya.
Kamu bisa menghindari chargeback dengan bekerja sama dengan platform dropshipping tepercaya seperti Tradelle. Mereka berfungsi sebagai platform riset produk sekaligus pemasok, sehingga lebih bisa diandalkan daripada sebagian besar mitra dan pemasok dropshipping lainnya.





