17 kesalahan umum dropshipping yang harus dihindari pemula

Pernah bertanya-tanya mengapa dropshipper gagal? Kamu tidak sendirian. Selama bertahun-tahun, saya juga melakukan kesalahan dan mendapat pelajaran pahit darinya.
Jangan sampai kamu mengalaminya. Kali ini, kamu akan mempelajari dua hal: kesalahan umum dalam dropshipping dan cara yang tepat untuk menjalankannya.
Masih banyak lagi yang akan dibahas! Kalau kamu sudah siap, mari kita mulai!
17 kesalahan umum dropshipping yang harus dihindari pemula
1. Memilih ceruk pasar yang salah
Kebanyakan dropshipper memilih ceruk pasar yang mereka sukai atau yang mereka rasa sudah mereka pahami. Namun, pilihan ini tidak selalu memberikan hasil terbaik. Kamu memang perlu memilih ceruk yang benar-benar kamu minati. Namun, kamu juga harus mempertimbangkan apakah ada pasar untuk ceruk tersebut.
“Semua barang pasti ada pasarnya!” katamu. Benar, tetapi apakah pasarnya cukup besar untuk menghasilkan keuntungan? Intinya, kamu harus memilih ceruk dengan:
- Pasar yang sangat besar
- Pasar yang bersedia membayar
- Permintaan yang konsisten
Kamu boleh menjual peralatan bonsai lewat dropshipping, tetapi tanyakan pada dirimu: dari setiap 100 orang yang kamu kenal, berapa yang tertarik menanam bonsai? Sebagai perbandingan, berapa dari 100 orang itu yang memakai baju?
2. Memilih produk yang salah
Banyak dropshipper tidak meneliti karakteristik produk dan akhirnya tidak mendapatkan penjualan. Mengimpor produk ke toko dropshipping sangat mudah dan tidak membutuhkan biaya.
Kemudahan proses ini membuat dropshipper kurang teliti. Mereka langsung mengimpor produk hanya karena:
- Harganya murah
- Margin keuntungannya tinggi
- Fotonya terlihat bagus
- Gratis ongkir
Meski semua itu merupakan keunggulan produk, kamu perlu mempertimbangkan lebih dari itu. Kamu harus memilih produk yang laris. Ciri utama produk yang laris adalah sudah memiliki penjualan.
Gunakan alat yang bisa menunjukkan apakah suatu produk sudah terjual. Salah satu contohnya adalah Tradelle, pemasok sekaligus alat untuk riset dan impor produk.

Seperti yang terlihat pada tangkapan layar, Tradelle menyediakan data berharga untuk mengetahui apakah suatu produk laris. Produk di atas jelas laris, lihat saja grafik kinerja penjualannya. Kamu bahkan bisa melihat berapa banyak toko yang akan menjadi pesaingmu dan negara mana yang menunjukkan minat tertinggi terhadap produk tersebut.
3. Menjual terlalu banyak produk
Tidak ada salahnya menjual berbagai produk, terutama jika kamu ingin memberi pilihan kepada pelanggan. Namun, hal ini bisa merugikan alih-alih menguntungkanmu.
Ada alasan mengapa jaringan restoran cepat saji tidak terus menambah produk. Mereka hanya menggabungkan produk menjadi paket untuk menghemat biaya karena lebih mudah dikelola. Dengan prinsip yang sama, sebagai dropshipper, lebih baik kamu menjual beberapa produk dahulu dan menambahnya setelah bisnismu berkembang.
“Tetapi saya tidak menyimpan stok, jadi logika restoran cepat saji tidak berlaku,” katamu. Tetap ada persamaannya, dan berikut risiko menjual terlalu banyak produk:
- Terlalu banyak pilihan membuat pelanggan tidak jadi membeli karena bingung dan sulit memutuskan
- Memasarkan ratusan produk lebih sulit daripada hanya beberapa produk
- Tokomu menjadi berantakan
- Pada akhirnya, kamu akan menargetkan terlalu banyak audiens dan kewalahan
Selain itu, bayangkan jika kamu memiliki ratusan produk. Kamu akan menyadari bahwa kamu harus berurusan dengan ratusan pemasok. Sanggupkah kamu memantau kualitas setiap produk dan keandalan setiap pemasok? Pelanggan mengharapkan pilihan produk yang terarah dan berkualitas. Itulah sebabnya menjual terlalu banyak produk bisa merugikan.
4. Tidak melakukan perhitungan bisnis
Dropshipping adalah bisnis dan memang membutuhkan kemampuan matematika bisnis. Jika kamu merasa akan untung hanya dengan menambahkan margin $5 pada produk seharga $2, pikirkan lagi.
Sebagai dropshipper, kamu harus membuat proyeksi dan memahami prinsip matematika bisnis. Berikut beberapa contohnya:
- Harga pokok penjualan atau COGS
- Biaya akuisisi pelanggan
- Margin laba kotor
- Margin laba bersih
- Piutang dan utang usaha
Kamu harus menghitung keuangan bisnis online-mu agar bisa menetapkan target penjualan dan mengetahui apakah bisnismu benar-benar menghasilkan keuntungan. Kebanyakan dropshipper bahkan tidak memikirkannya karena merasa biaya Shopify hanya $25 per bulan. Lalu, saat pesanan membanjir, mereka justru tidak punya uang tunai untuk membayar pesanan itu terlebih dahulu.
Dalam skenario terburuk, penyedia layanan pembayaran seperti PayPal bisa menahan danamu, dan hal ini cukup sering terjadi. Jika kamu mengalaminya, kamu akan berada dalam masalah besar.
5. Membuat desain situs yang terlihat amatir
Situs dengan desain yang buruk pasti membuat pengunjung enggan dan curiga. Lihat contoh ini:

Terlalu banyak ruang putih di layar, dan gambar berbentuk bulat sudah ketinggalan zaman. Desain seperti ini tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
Berikut contoh lainnya:

Logonya terlalu besar, dan menu hamburger di sebelah kiri kurang tepat penempatannya. Akan lebih baik jika dropshipper menggunakan menu teks standar untuk mengisi ruang putih kosong di bagian tengah atas. Selain itu, logo seharusnya kecil, bukan sebesar ini.
Berikut beberapa elemen desain yang harus kamu pertimbangkan:
- Navigasi: apa yang dicari pelanggan harus mudah diakses di halaman
- Konsistensi: gunakan jenis huruf, warna, dan ukuran yang sama secara konsisten. Ini juga berlaku untuk garis tepi, jarak, latar belakang, dan sebagainya.
- Desain yang seimbang: keseimbangan adalah kuncinya. Gunakan jarak, tinggi kolom, lebar, dan sebagainya yang seragam.
Untuk menghasilkan desain situs yang bagus, saya sarankan kamu mencari kata kuncimu di Google dan melihat situs yang berada di urutan teratas hasil pencarian. Sebagian besar adalah perusahaan besar dengan dukungan dana yang kuat. Karena itu, situs mereka dirancang secara profesional dan bisa kamu jadikan contoh.
6. Bekerja sama dengan pemasok yang salah
Dropshipper sering mengabaikan pentingnya mencari pemasok yang dapat diandalkan. Karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk stok, dropshipper biasanya bahkan tidak mau repot membeli produk yang mereka jual. Saran saya, setidaknya beli sampel dan keluarkan sedikit modal sekarang daripada menyesal nanti.
Berikut beberapa masalah yang umum terjadi dengan pemasok:
- Produk yang dikirim salah, misalnya warna atau ukuran yang keliru
- Pemasok bisa membutuhkan waktu seminggu untuk mengemas barang dan menyerahkannya ke kantor kurir atau perusahaan logistik
- Kualitas barang rendah dan jauh berbeda dari deskripsi di halaman produk
Pemasok yang buruk akan merusak bisnis dropshipping-mu. Kamulah yang harus menghadapi masalah ini. Pelangganmu tidak puas dan tidak merekomendasikan tokomu kepada teman-temannya. Lebih buruk lagi, kamu bahkan bisa mendapat nilai survei yang sangat rendah. Jangan berharap pelanggan akan tetap setia.
Bagi bisnis online, terutama e-commerce, membangun hubungan yang kuat dengan pemasok sangat penting untuk memastikan kepuasan pelanggan dan keberhasilan bisnis.
7. Menawarkan terlalu banyak promo
Dropshipper umumnya ingin menawarkan diskon sebanyak mungkin karena yakin pengunjung situs akan tertarik pada salah satunya lalu membeli. Pendekatan pemasaran ini sering berbalik merugikan karena terlalu membingungkan pelanggan.
Selain itu, jika saya menjadi pelanggan, saya pasti berpikir bahwa kalau kamu bisa memberikan semua diskon ini, produkmu sebenarnya tidak semahal yang kamu klaim.
Selalu lebih baik untuk menjalankan satu promo dalam satu waktu, lalu memanfaatkan rasa takut ketinggalan atau FOMO.
Pemasaran lewat promo bukan hal buruk. Namun, kamu perlu melakukannya dengan benar. Jangan terlalu sering, dan pastikan kamu memberi pelanggan alasan untuk membeli sekarang agar mereka tidak menyesal karena melewatkannya.
8. Tidak merencanakan strategi pemasaran
Pemasaran tidak sesederhana menawarkan promo atau diskon. Pemasaran juga tidak cukup dengan menggabungkan beberapa gambar dan teks iklan lalu menjalankan kampanye di Facebook. Kamu harus punya strategi bisnis untuk toko online-mu.
Strategi adalah rencana tindakanmu. Strategi mencerminkan sejauh mana kamu memahami masalah dan bagaimana kamu berencana menyelesaikannya.
Sebagai langkah awal, kamu harus:
- Memahami masalah yang ingin kamu selesaikan
- Membuat profil pelanggan ideal
- Membangun alur pemasaran untuk bisnismu
Sebelum menjalankan kampanye iklan, kamu perlu membuat rencana untuk ketiga poin ini. Jika tidak, kamu hanya akan membuang uang dan membuat Mark Zuckerberg semakin kaya.
Kuncinya adalah mempelajari penulisan teks pemasaran. Ada banyak informasi tentang ini di YouTube, serta banyak buku yang bisa kamu baca tentang cara menjadi penjual online yang efektif.
Istilah copywriting mungkin terdengar trendi sekaligus menakutkan. Namun, sebenarnya ini hanyalah seni membujuk. Kamu perlu menulis dengan tujuan meyakinkan pembaca agar bertindak. Selain itu, memanfaatkan platform media sosial sangat penting dalam strategi pemasaran untuk menjangkau calon pelanggan secara efektif dan memperkuat kehadiran bisnismu di internet.
9. Mengerjakan semuanya secara manual
Cara manual justru mahal. Jika kamu merasa menghemat $25 per bulan adalah pencapaian luar biasa, pikirkan lagi.
Dropshipper tidak ingin mengeluarkan uang, dan itu bisa dimengerti. Namun, ada pengeluaran bisnis yang bermanfaat dan ada yang tidak. Mengerjakan semuanya secara manual menyita banyak waktu. Akibatnya, kamu tidak punya waktu untuk memasarkan produkmu.
Lebih baik mengeluarkan uang daripada mengerjakan semuanya secara manual. Misalnya, lebih baik menggunakan Tradelle untuk mencari produk yang laris dan membayar $29.99 per bulan daripada menghabiskan berminggu-minggu untuk melakukan hal yang sama secara manual. Kalau dipikir-pikir, $29.99 hanya setara dengan lima cangkir Starbucks. Saya yakin kamu bisa merelakannya demi bisnismu, bukan?
Dengan alat seperti Tradelle, kamu bisa mengotomatiskan banyak hal sekaligus memangkas waktu riset dari berjam-jam atau berhari-hari menjadi hanya beberapa menit.
10. Terlalu cepat menyerah
Dropshipper biasanya mencoba selama tiga bulan. Tidak ada penjualan. Lalu mereka menyerah. Tahukah kamu bahwa Amazon membutuhkan sembilan tahun untuk mulai menghasilkan keuntungan?
Dropshipping juga demikian, ini adalah bisnis. Kabar baiknya, kamu tidak perlu menghabiskan jutaan dolar untuk dropshipping. Yang kamu butuhkan hanyalah kesabaran dan taktik pemasaran yang tepat.
Jika tidak punya anggaran untuk beriklan, pasarkan produkmu lewat blog. Kamu punya banyak waktu untuk menulis artikel blog. Jika tidak punya waktu, sewa penulis untuk menulis atas namamu. Jika tidak punya anggaran untuk menyewa penulis, gunakan AI seperti ChatGPT untuk menulis artikelnya.
Intinya, jangan mudah menyerah. Dropshipping adalah adu ketahanan. Hanya mereka yang bertahan yang akan menang.
11. Tidak terus belajar
Sesuatu yang dulu populer kini tidak lagi diminati. Strategi yang dulu sangat bagus mungkin sudah tidak efektif sekarang. Audiens di Facebook mungkin sudah beralih ke TikTok. Begitu banyak hal terjadi di dunia, dan semuanya berlangsung begitu cepat.
Pastikan kamu selalu menjadi yang terdepan dalam mengikuti perubahan ini. Kenali perubahan sejak awal dan sesuaikan bisnismu. Ikuti terus perkembangan dunia dropshipping dengan:
- Berlangganan channel YouTube
- Mendaftar ke milis
- Bergabung dengan forum
- Mengajukan pertanyaan secara online
Apa yang kamu pelajari dari kursus online memberi landasan yang sangat baik, tetapi belum cukup. Pasar mengalami pasang surut, dan kondisinya terus berubah. Cara terbaik untuk tetap relevan adalah mengikuti perkembangan tren.
Saya tidak mengatakan bahwa kamu harus mengikuti semua tren. Pilih yang sesuai dengan bisnismu. Selalu nilai apakah perubahan tersebut akan bermanfaat bagi bisnismu jika diterapkan.
12. Tidak memperlakukannya sebagai bisnis
Dropshipping adalah bisnis sungguhan, dan kamu akan menghadapi banyak tantangan yang juga dihadapi peritel tradisional. Bersiaplah menghadapi tantangan secara langsung dan jangan mengabaikan masalah. Apa maksudnya dropshipper tidak memperlakukannya sebagai bisnis?
Berikut beberapa contohnya:
- Mereka tidak menganalisis statistik bisnis
- Mereka tidak menetapkan standar atau tidak mematuhi standar yang tinggi
- Mereka tidak memiliki daftar tugas harian
- Mereka tidak mengelola keuangan
Jika pernah bekerja di kantor atau tempat kerja fisik lainnya, kamu tahu bahwa setiap karyawan punya peran masing-masing. Analis harus menganalisis, manajer harus mengelola, dan petugas pemeliharaan harus membersihkan serta memperbaiki berbagai hal.
Sebagai dropshipper, kamu akan menjalankan semua peran ini. Kamu menjalankan usaha sendiri dan memegang begitu banyak peran hingga bisa kewalahan. Namun, begitulah bisnis e-commerce berjalan dan berkembang. Menjalankan bisnis e-commerce memiliki tantangan dan tanggung jawab tersendiri.
13. Bersaing lewat harga (jangan menjual produk terlalu murah)
Menurunkan harga untuk mengalahkan pesaing adalah kesalahan karena pendekatan ini tidak sesuai dengan situasimu sebagai dropshipper. Cara ini mungkin hanya cocok jika kamu menjalankan dropshipping di Amazon atau eBay.
Di Amazon, gambar mini produkmu tampil tepat di sebelah produk pesaing. Produkmu seharga $49.99, sedangkan produk pesaing $39.99. Pelanggan tidak akan mengeklik gambar mini produkmu.
Kemungkinan besar, kamu menjalankan dropshipping melalui toko Shopify atau WooCommerce milikmu sendiri. Jadi, tidak ada alasan untuk menurunkan harga demi mengalahkan pesaing. Kuncinya ada pada teks pemasaran yang bagus.
Kamu mungkin bertanya, “Bagaimana jika pelanggan mengetik kata kunci yang sama di Amazon?” Kemungkinan pelanggan itu melihat produk yang sama dengan produkmu kecil. Perlakukan tokomu sebagai toko yang istimewa, dan pelangganmu pun akan melihatnya begitu.
14. Terlalu lama memilih produk
Riset mendalam memang penting, tetapi kamu bisa membuang waktu berjam-jam mencari produk yang laris hingga akhirnya tokomu tidak berkembang. Analisis merupakan bagian penting dari kesuksesan, tetapi berpikir berlebihan juga bisa menghambat kemajuan.
Dalam bisnis, ada istilah kelumpuhan analisis. Ini terjadi ketika kamu terlalu banyak berpikir hingga tidak mengambil tindakan. Berhentilah berpikir berlebihan dan mulailah bertindak.
Untuk membantumu, gunakan alat yang menyediakan insight yang kamu butuhkan, seperti Tradelle. Tadi, kamu sudah melihat seberapa mendalam informasi yang bisa diberikan alat ini. Dengan insight tersebut, kamu bisa lebih mudah mengambil keputusan tanpa membuang waktu berjam-jam untuk riset pasar.
Langkah berikutnya adalah membeli barang tersebut dari pemasok untuk melihat seberapa cepat mereka mengemas dan mengirimkannya, sekaligus memeriksa kualitas produk yang mereka jual. Menjalankan rencana dan bertindak selalu lebih baik daripada diam saja.
15. Mengabaikan ulasan dan masukan pelanggan

Saat mencari produk, asumsinya produk itu sudah memiliki ulasan. Gunakan informasi ini untuk mengambil keputusan bisnis yang bijak.
Jika pemasokmu ada di AliExpress, kamu beruntung karena ada banyak ulasan pelanggan yang bisa dibaca. Jika tidak, kamu bisa mengunjungi toko pemasok di marketplace lain dan membaca ulasannya.
Perlu diingat, ulasan bisa saja palsu, jadi berhati-hatilah. Jika ulasan positif tidak disertai teks, atau teksnya sangat sederhana seperti “Bagus”, “Sangat baik”, “Luar biasa”, dan sebagainya, kamu punya alasan yang masuk akal untuk menduga ulasan tersebut palsu.
Terkadang, membaca ulasan negatif lebih masuk akal. Lihat contoh ini:

Rating produk ini adalah 4.7 dari lima bintang. Namun, jika kita memeriksa ulasan negatifnya, inilah yang kita temukan:

Seperti yang kamu lihat, ada banyak masalah di sini. Pemasok mengirim produk yang salah, pengiriman juga bermasalah, dan gambar produknya menyesatkan. Apakah kamu mau bekerja sama dengan pemasok seperti ini? Saya rasa tidak. Selain itu, mengelola biaya pengiriman secara efektif sangat penting bagi kepuasan pelanggan. Ongkir yang tidak terduga atau terlalu tinggi bisa memicu ulasan negatif dan memengaruhi reputasi bisnismu.
16. Memiliki harapan yang tidak realistis
Dropshipping bukan cara cepat kaya. Bisnis ini tidak cocok untukmu jika ingin cepat mendapat keuntungan. Dropshipping itu sulit. Model bisnis ini membutuhkan banyak keterampilan.
Berikut beberapa kenyataan pahit tentang dropshipping:
- Kamu bersaing dengan ribuan orang
- Kamu bersaing dengan Amazon dan Walmart
- Kamu tidak akan berhasil tanpa keterampilan yang tepat
Terlalu sering orang mengira dropshipping hanya soal mengeklik tombol dan mengunggah gambar produk, lalu selesai. Padahal, lebih banyak hal yang harus dikerjakan. Jika tidak paham cara kerja pemasaran, kamu akan gagal. Jika tidak tahu cara memilih produk yang laris, kamu akan gagal.
Dropshipping sama seperti bisnis ritel lainnya. Kamu membutuhkan banyak orang dengan keterampilan berbeda agar bisnis berhasil. Perbedaan besarnya? Dalam dropshipping, kamu bisa bekerja sendiri.
17. Tidak mengenal target audiens
Terakhir, banyak dropshipper tampaknya tidak mau repot memahami siapa sebenarnya pelanggan mereka. Jika kamu berkata, “Pelanggan saya adalah pria,” kamu baru saja melakukan kesalahan mendasar.
Target pasar berbeda dengan target audiens. Pasarnya adalah pria. Audiensnya lebih spesifik.
Berikut contoh audiens:
- Pria yang menyukai basket dan mengidolakan LeBron James
- Para pria ini bekerja dan berpenghasilan $30,000 setahun
- Mereka suka pergi ke pesta dan mengoleksi sepatu olahraga
- Para pria ini mungkin juga memiliki anak remaja yang sama-sama menyukai basket
- Para pria ini tinggal di Amerika Serikat
Terlihat bedanya? Dengan deskripsi audiens seperti ini, menulis teks iklan akan jauh lebih mudah karena kamu menargetkan tipe orang tertentu, yaitu pelanggan idealmu. Memahami target audiens adalah landasan untuk membangun toko online yang sukses karena pemahaman ini langsung memengaruhi strategi pemasaran dan pilihan produk yang kamu tawarkan.
4 praktik terbaik untuk menghindari kesalahan dropshipping
Agar kamu memulai dropshipping dengan benar dan tetap di jalur yang tepat, berikut daftar sederhana yang saya rekomendasikan.
Langkah-langkahnya:
- Ikuti kursus online
- Buat rencana
- Terus belajar lewat video
- Pelajari matematika bisnis
Mari kita bahas satu per satu.
1. Ikuti kursus online
Kursus? Harus bayar? Tenang, kamu tidak harus mengeluarkan uang. Ada banyak kursus online gratis tentang dropshipping yang bisa kamu ikuti. Mengikuti kursus lebih baik daripada mempelajari setiap aspek sambil menjalankan bisnis. YouTube adalah tempat terbaik untuk memulai.
Kursus dropshipping, baik gratis maupun berbayar, dirancang dengan cermat oleh pembuatnya. Kursus mencakup semua yang perlu kamu ketahui secara bertahap. Dengan begitu, kamu bisa memahami seluruh seluk-beluk dropshipping.
Sebagian dropshipper membangun toko setelah menonton video tentang cara membuat toko dan mengimpor produk. Namun, video itu tidak membahas:
- Strategi pemasaran
- Cara menemukan produk yang laris
- Tempat terbaik untuk mencari pemasok
- Cara membuat iklan di Facebook, Instagram, dan sebagainya
Tanpa mengikuti kursus, kamu akan menjalani seluruh proses dengan coba-coba, kewalahan, lalu menyerah setelah gagal. Materi kursus tersusun secara terarah dan mempersiapkanmu secara mental serta emosional untuk menghadapi tantangan ke depan.
2. Buat rencana
Jangan memulai dropshipping tanpa rencana. Rencana ini tidak perlu rumit. Daftar tugas sederhana sudah cukup. Gunakan daftar ini untuk memantau sejauh mana perkembangan bisnismu.
Berikut contohnya:

Ini adalah rencana untuk toko WooCommerce. Kamu bisa menggunakan templat serupa dan menambahkan detail sesuai kebutuhanmu.
Itulah sebabnya kamu perlu mengikuti kursus. Selama mengikuti kursus online tersebut, catat hal-hal yang harus dikerjakan secara berurutan, lalu jalankan.
3. Terus belajar lewat video
YouTube memiliki banyak video yang bisa membantumu menyelesaikan masalah selama menjalankan dropshipping. Misalnya, jika melihat fitur situs yang ingin kamu terapkan di tokomu, kamu bisa mencari caranya di YouTube.
Berikut beberapa jenis video yang sebaiknya kamu tonton secara rutin:
- Optimasi mesin pencari dan pembaruan aturan mesin pencari dari Google
- Pembaruan Shopify serta plugin atau aplikasi baru yang bisa kamu gunakan
- Taktik, strategi, dan tren pemasaran
Sebagai bisnis sungguhan, dropshipping menuntut proses belajar tanpa henti. Seiring perubahan perilaku orang, harapan dan standar juga berubah. Kamu perlu mengikuti perubahan ini jika ingin sukses dalam jangka panjang.
4. Pelajari matematika bisnis
Terakhir, kamu perlu mempelajari matematika bisnis dan cara kerja rumus-rumusnya. Semuanya akan semakin masuk akal seiring waktu, dan kamu akan menyadari pentingnya konsep serta prinsip ini bagi bisnismu.
Berikut contohnya:
- Kamu menghabiskan $100 untuk iklan Facebook
- Iklanmu mendapat 10,000 tayangan
- CTR-mu sebesar 1%
- Tingkat konversimu sebesar 15%
Kamu mungkin merasa hasil ini bagus karena rata-rata tingkat konversi global hanya 3%. Namun, jika menghitung lebih jauh, kamu akan memahami mengapa hasil ini buruk. Dari 10,000 tayangan, 100 orang mengeklik iklan, sehingga rasio kliknya 1%.
Dari 100 orang yang mengeklik, 15 orang membeli. Keuntunganmu dari setiap transaksi adalah $10. Secara keseluruhan, laba kotormu sebesar $150.
Kamu menghabiskan $100 untuk iklan Facebook, jadi laba bersihmu sekarang $50. Kedengarannya bagus, tetapi ada yang disebut biaya akuisisi pelanggan (CAC). Dalam contoh ini, kamu menghabiskan $100 dan mendapatkan 15 pelanggan. CAC-mu adalah $100 / 15 = $6.67 per pelanggan.
Jika keuntunganmu $10 dan CAC-mu $6.67, berarti kamu sudah menghabiskan 66.67% dari keuntungan itu untuk mendapatkan pelanggan. Itu mahal. Pelajari matematika bisnis agar kamu terhindar dari kerugian finansial dan kebangkrutan.
Penutup
Apa langkahmu selanjutnya? Jika belum memulai, ingat daftar ini dan periksa apakah kamu melakukan kesalahan-kesalahan tersebut saat mulai membangun toko dropshipping-mu. Saya juga menyarankanmu untuk mencoba Tradelle. Daftar akun gratis dan lihat sendiri bagaimana Tradelle bisa membawa perubahan besar pada bisnis dropshipping-mu!





