120 hari Trump menjabat: Tarif dan dropshipping pada 2025

Presiden Donald Trump berjanji akan menindak perdagangan bebas pada masa jabatan keduanya. Janji itu ia tepati dalam 100 hari pertama menjabat. Pada April, Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya akan memberlakukan tarif baru secara luas, dengan klaim bahwa tarif tersebut akan membuat perdagangan antarnegara lebih timbal balik dan mendorong lebih banyak perusahaan memindahkan operasionalnya ke AS.
Pada hari yang disebut Trump sebagai “Hari Pembebasan”, ia mengenakan tarif terbesar terhadap impor dari Tiongkok.
Tarif yang terus berubah telah menimbulkan kekacauan bagi perusahaan di seluruh Amerika Serikat. Saat artikel ini ditulis, AS mengenakan tarif 145% terhadap barang dari negara terbesar kedua di Asia itu.
Pajak impor baru terhadap Tiongkok ini membuat para dropshipper khawatir. Banyak dropshipper memperoleh penghasilan dengan memasok produk dari Tiongkok dan negara serupa yang mampu memproduksi barang dengan biaya rendah. Tarif atas barang dari Tiongkok berpotensi memangkas sebagian besar penghasilan tersebut.
Meski situasi ini kacau bagi semua bisnis yang mengimpor barang ke AS, sebagian dropshipper akan lebih terdampak tarif dibandingkan yang lain. Dropshipper juga bisa mengambil keputusan strategis agar tetap untung dan menambah pelanggan di tengah situasi yang bergejolak ini.
Memahami tarif Trump

Presiden Trump meyakini bahwa selama puluhan tahun, perdagangan internasional menguntungkan negara lain dan merugikan AS. Tarifnya merupakan upaya untuk menciptakan persaingan yang setara. Pandangannya tentang “defisit perdagangan” mendorongnya menyasar negara tertentu dengan tarif tertinggi.
Perlu diingat bahwa kebijakan tarif Trump bisa berubah sesuka hati Presiden. Cara kerjanya saat ini memang bisa dijelaskan, tetapi kebijakan tersebut bisa berubah tanpa banyak pemberitahuan. Ketidakpastian ini sangat menyulitkan banyak perusahaan. Karena tidak tahu cara menyusun rencana ke depan, mereka juga tidak tahu cara merespons agar bisnis terus berhasil. Meski begitu, sebagian dropshipper e-commerce di AS masih bisa merespons dengan berbekal informasi yang memadai.
Faktanya:
- Pada Februari, Presiden Trump mengumumkan tarif 10% atas semua barang yang diimpor ke AS dari Tiongkok.
- Belakangan, Trump menaikkan tarif tersebut menjadi 125%.
- Banyak produk dari Tiongkok kini dikenai tarif 145% karena kebijakan baru itu juga mencakup “pajak fentanil 20%”.
- Gedung Putih mengeklaim bahwa sebagian barang bisa dikenai pungutan 245%, meski belum jelas produk mana yang akan dikenai tarif tertinggi tersebut.
- Sebagian produk, termasuk ponsel pintar dan komputer, telah dinyatakan bebas dari tarif Donald Trump.
Apa arti tarif ini bagi pelanggan dropshipping?

Sebagian besar ahli mengatakan bahwa konsumen akan menanggung dampak terbesar dari tarif ini karena pungutan tersebut akan memaksa importir menaikkan harga. Dengan asumsi dropshipper tidak mau kehilangan keuntungan, mereka akan menaikkan harga sebesar persentase tarif tersebut. Artinya, harga sebagian besar produk yang diimpor dari Tiongkok akan naik 145%. Sebagai contoh, kemeja yang harganya $20 sebelum tarif berlaku kini akan berharga $49.
Pemerintahan Trump mengatakan tarifnya akan mendorong masyarakat membeli produk buatan AS, tetapi keputusan konsumen tidak akan semudah itu. Faktanya, banyak produk buatan AS menggunakan komponen dari luar negeri. Setelah puluhan tahun berlakunya perjanjian perdagangan bebas, produsen menjadi bergantung pada barang dan jasa dari seluruh dunia. Bahkan harga produk “buatan AS” kemungkinan akan naik.
Karena itu, pelanggan dropshipping harus memilih antara membeli barang impor yang kini lebih mahal daripada tahun lalu atau membayar jauh lebih mahal untuk produk buatan AS.
Apakah tarif Trump akan berdampak sama pada semua pihak?

Sulit memastikan bagaimana tarif Trump akan memengaruhi masing-masing perusahaan yang mengimpor barang dari Tiongkok dan negara lain. Hingga belum lama ini, aturan de minimis membuat impor paket kecil dari negara lain relatif mudah. Selama nilai pembelian di bawah $800, paket bisa masuk ke AS dengan penanganan minimal oleh Customs and Border Protection (CBP), badan bea cukai dan perlindungan perbatasan AS. Penerima barang dengan nilai pembelian di bawah $800 juga tidak dikenai bea masuk.
Pemerintah federal menghapus aturan de minimis pada April, sehingga tarif baru kemungkinan akan berlaku untuk semua impor, berapa pun ukuran atau nilainya.
Namun, negosiasi perdagangan berlangsung begitu kacau dan cepat sehingga tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Aturan apa pun bisa berubah kapan saja.
Terlepas dari ketidakpastian tersebut, dropshipper skala kecil dan pemula mungkin memiliki beberapa keunggulan dibandingkan perusahaan besar.
Perusahaan besar yang mengimpor dari Tiongkok ke AS perlu melakukan penyesuaian besar dalam birokrasi dan struktur organisasi untuk mengikuti perubahan tarif. Sebagian perusahaan mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk menuntaskan perubahan itu. Saat itu, tarif kemungkinan sudah berubah lagi. Belum bisa dipastikan apakah importir besar mampu menyesuaikan diri seiring terjadinya perubahan.
Sebaliknya, dropshipper yang lebih kecil dan baru bisa menyesuaikan strategi dalam hitungan jam atau hari. Ketidakpastian tetap berdampak pada mereka, tetapi mereka jauh lebih gesit dibandingkan perusahaan besar dengan praktik yang sudah mengakar.
Meski tarif dimaksudkan untuk berdampak sama pada semua importir, kenyataannya sebagian dropshipper lebih mudah mengubah arah dibandingkan yang lain.
Dropshipper bisa bertindak sekarang untuk memperbesar peluang sukses

Tarif terhadap Tiongkok menimbulkan tantangan bagi dropshipper e-commerce di AS. Namun, tarif tersebut tidak membuat kesuksesan mustahil diraih. Semua bisnis yang mengimpor barang dari luar negeri perlu mengambil pendekatan strategis untuk menghindari biaya dan keterlambatan yang tidak perlu.
Pilih pemasok tepercaya yang mengikuti prosedur deklarasi pabean

Bea cukai harus menahan dan memeriksa lebih banyak paket untuk memberlakukan pajak impor terhadap Tiongkok. Penghapusan aturan de minimis akan semakin membebani bea cukai AS. CBP menyatakan bahwa mereka menerima sekitar 4 juta paket de minimis per hari. Belum jelas bagaimana pemerintah federal mengharapkan CBP memproses dan memungut pajak atas seluruh paket tersebut.
Sekalipun pemerintahan Trump menambah kapasitas CBP untuk memproses lebih banyak paket, pelanggan tetap perlu mengantisipasi keterlambatan. Namun, bukan berarti dropshipper e-commerce harus pasrah menerima waktu pengiriman yang lama.
Memilih mitra tepercaya dan berpengalaman seperti Tradelle membantu memastikan produk sampai ke pelanggan tepat waktu. Tradelle menyediakan dokumentasi yang disiapkan dengan teliti agar paket tidak tertahan di perbatasan. Meski tantangan baru dalam mengimpor produk dari Tiongkok tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, kamu bisa mempermudah proses impor bagi CBP. Hal ini akan sangat menentukan keberhasilan dropshipper e-commerce dalam beberapa tahun ke depan.
Cari pasokan produk dari lebih banyak negara

Perang dagang Presiden Trump dimulai tanpa fokus yang jelas. Pada Hari Pembebasan, AS seolah telah menyatakan perang dagang terhadap seluruh dunia.
Trump telah mempersempit sasarannya sejak awal April. Saat ini, ia memusatkan sebagian besar kemarahannya pada Tiongkok, yang menyumbang sekitar 14% dari seluruh impor. Presiden Trump menyebut beberapa alasan untuk mengenakan tarif lebih tinggi terhadap Tiongkok, termasuk tuduhan bahwa negara itu kurang menghormati AS.
Tiongkok sudah lama menjadi sumber barang murah bagi warga Amerika. Kini, mencari pemasok di wilayah lain di dunia mungkin menjadi langkah yang masuk akal bagi dropshipper e-commerce. Sebagai contoh, AS saat ini mengenakan tarif 46% atas produk dari Vietnam. Meski lebih tinggi daripada tarif umum 10% yang dikenakan pada sebagian besar negara, biayanya jauh lebih terjangkau dibandingkan mengimpor produk dari Tiongkok.
Negara lain yang mengekspor banyak produk ke AS antara lain:
- Thailand
- India
- Korea Selatan
- Singapura
- Malaysia
Menjajaki pilihan di negara-negara tersebut dan wilayah lain layak dilakukan untuk menghindari tingginya biaya impor dari Tiongkok. Bahkan, dropshipper e-commerce sebaiknya mempertimbangkan impor dari beberapa negara alih-alih bergantung pada satu pilihan. Tidak ada yang tahu negara mana yang akan dikenai tarif lebih tinggi dalam waktu dekat. Dengan mendiversifikasi sumber pasokan sekarang, kamu bisa membangun hubungan yang memudahkanmu beralih saat tarif berubah.
Cari pelanggan di luar AS

Mencari pelanggan di luar AS juga merupakan cara yang masuk akal bagi dropshipper e-commerce untuk menghindari pajak impor terhadap Tiongkok. Meski sebagian negara merespons kebijakan tarif Trump dengan menaikkan tarif impor dari Amerika Serikat, tarif terhadap negara lain umumnya tetap sama. Misalnya, seseorang di Australia yang membeli produk dari Tiongkok tidak perlu khawatir harus membayar tarif lebih tinggi.
Platform dropshipping yang sudah mapan semestinya memudahkanmu menarik dan mempertahankan pelanggan di seluruh dunia. Banyak dropshipper akan memilih berfokus pada negara berbahasa Inggris seperti Selandia Baru, Kanada, Australia, dan Britania Raya. Namun, dropshipper yang menguasai beberapa bahasa mungkin ingin menjangkau pelanggan yang lebih beragam lagi.
Tradelle bisa membantumu menentukan negara asal dan tujuan pengiriman. Selain itu, Tradelle menyediakan alat yang memungkinkanmu:
- Menghitung metrik penting seperti profitabilitas dan imbal hasil belanja iklan (ROAS)
- Melihat langkah yang diambil pesaingmu
- Menilai seberapa besar minat konsumen terhadap produk tertentu
- Memerinci minat pelanggan berdasarkan negara dan musim
Berbekal informasi ini, kamu bisa mengambil keputusan berdasarkan data untuk meraih keuntungan selama perang dagang Trump.
Terima keuntungan lebih rendah dari penjualan di Amerika

Presiden Trump mengatakan tarifnya akan mendatangkan lebih banyak lapangan kerja manufaktur ke AS. Saat ini, belum ada yang tahu apakah itu akan terjadi. Namun, jelas bahwa Amerika Serikat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun fasilitas manufaktur baru yang memproduksi barang yang biasanya diimpor dari negara seperti Tiongkok.
Selama masa tunggu ini, konsumen Amerika tetap perlu membeli produk. Banyak produk tersebut memang tidak bisa dipasok dari dalam AS. Fakta ini semakin jelas saat kamu menelusuri rantai pasokan. Sebagai contoh, Tiongkok adalah salah satu dari sedikit negara yang mampu memproduksi EVA, bahan mirip karet yang digunakan untuk matras yoga, sandal jepit, tas tangan, dan banyak produk lain. Ada pabrik yang memproduksi EVA di Vietnam, tetapi sebagian besar dimiliki oleh perusahaan Tiongkok.
Rantai pasokan internasional yang terhubung dengan Asia juga sangat penting bagi produksi sepatu dan berbagai barang elektronik. Saat Amerika Serikat mulai bergantung pada tenaga kerja dan bahan murah dari negara-negara Asia, negara itu juga berhenti berinvestasi pada teknologi yang dibutuhkan untuk bersaing di bidang tertentu. Kini, AS sudah tertinggal begitu jauh dari Tiongkok sehingga tidak mampu mengejarnya.
Bahkan ketika perusahaan Amerika mampu membuat produk yang biasanya dipasok dari Tiongkok, mereka umumnya harus memasang harga lebih tinggi karena aturan upah minimum, regulasi yang lebih ketat, dan biaya hidup yang lebih tinggi. Mungkin masuk akal jika produk buatan Amerika Serikat bisa bersaing dengan produk serupa dari Tiongkok yang jauh, tetapi konsumen hampir selalu harus membayar jauh lebih mahal untuk produk AS.
Daripada mengkhawatirkan bagaimana tarif Donald Trump memaksa dropshipper e-commerce menaikkan harga, fokuslah pada penghematan yang masih didapat konsumen dengan memilih produk impor dari Tiongkok. Konsumen mungkin tidak suka membayar lebih mahal saat ini, tetapi mereka akan segera menerima bahwa barang impor tetap lebih menguntungkan bagi mereka.
Tarif pada akhirnya akan kembali normal

Tarif terhadap Tiongkok membuat dropshipper perlu memikirkan banyak hal. Kamu mungkin bertanya:
- Apakah Temu akan terdampak tarif?
- Apakah tarif pada AliExpress akan membuat pelanggan pergi?
- Apakah dampak tarif terhadap SHEIN akan begitu besar hingga warga Amerika berhenti menggunakannya?
Bersiaplah menghadapi sejumlah gangguan akibat tarif, tetapi jangan menganggapnya akan berlangsung selamanya. Hanya soal waktu sebelum tarif kembali normal dan bisa diprediksi lagi. Itu mungkin terjadi saat Presiden Trump mengalah pada tekanan konsumen Amerika. Namun, mungkin juga baru terjadi setelah ia tidak lagi menjabat.
Sebagai dropshipper, kamu tentu berharap perang tarif segera berakhir. Sayangnya, kamu tidak bisa mengendalikan pemerintahan Trump. Sambil menunggu, kamu bisa mengambil langkah cerdas dengan mendiversifikasi sumber produk, menyasar konsumen di negara lain, dan bermitra dengan pemasok mapan yang memahami cara memenuhi persyaratan pabean.
Buat akun gratis di Tradelle hari ini agar kamu bisa lebih mengendalikan bisnis dropshipping-mu di tengah situasi yang bergejolak ini.





